Gender
Gender (baca: [gènder]) dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. WHO (World Health Organization) memberi batasan gender sebagai seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan, yang dikonstruksi secara sosial, dalam suatu masyarakat.
Konsep gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis, walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling dipertukarkan. Jika jenis kelamin keseluruhannya merupakan konstrukt biologis, maka gender merupakan hasil dari konstrukt sosial yang memaknai jenis kelamin. Gender bersifat lebih kompleks dari jenis kelamin.
Dalam isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) gender dikaitkan dengan orientasi seksual. Seseorang yang merasa identitas gendernya tidak sejalan dengan jenis kelaminnya dapat menyebut dirinya "intergender", seperti dalam kasus waria.
Dalam konsep gender, yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat, sehingga orang mengenal maskulinitas dan femininitas. Sebagai ilustrasi, sesuatu yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminin dalam budaya lain. Dengan kata lain, ciri maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin.
Kesehatan Fisik (Physical Health)
Sejak masih berbentuk embrio pada masa awal pembuahan, terutama sebelum menginjak usia dewasa. Perempuan memang lebih kuat secara fisik dibanding laki-laki. Hal ini mungkin disebabkan oleh dua kromosom X yang dimiliki perempuan.
Neurologi (Neurology)
Anatomi otak perempuan bentuknya lebih padat, ukuran lebih kecil, dan lebih banyak berisi neuron daripada otak laki-laki. Fungsi bahasa pada perempuan juga didistribusikan secara merata pada kedua cerebral hemispheres dalam otaknya, sementara pada pria hanya terkonsentrasi pada hemispheres sebelah kiri. Hal ini menyebabkan pria lebih rentan terhadap gangguan bahasa seperti disleksia (dyslexia).
Sampai saat ini masih menjadi perdebatan apakah kromosom Y pada laki-laki yang membuatnya rentan terhadap gangguan kejiawaan. Seperti, keterbelakangan mental (down syndrome).
Psikologi (Psychology)
Tidak ada perbedaan antara sifat kognitif dan psikologis laki-laki dan perempuan, kalaupun ada presntasenya hanya sedikit.
Tes Kepibadian (Personality Test)
Perempuan memiliki kecenderungan tinggi dalam hal keramahan (agreeableness) kecenderungan merasa kasihan dan kooperatif. Dan, neurotisisme (neuroticism) kecenderungan merasa gelisah, marah, dan depresi).
Hasil survey MBTI menyatakan 60-75% perempuan lebih menggunakan perasaan, dan 55-80% pria lebih menggunakan pikiran.
Keagresifan (Aggression)
Laki-laki lebih agresif dari perempuan. Beberapa studi menunjukkan bahwa laki-laki memiliki kecenderungan lebih besar dalam melakukan hal-hal berbahaya daripada perempuan. Kecenderungan agresifitas berkorelasi dengan tingginya nilai testosteron (testosterone).
Sistemasi dan Berempati (Systematizing and Empathizing)
Laki-laki lebih baik dalam hal sistemasi (keinginan untuk melakukan analisa dan eksplorasi sistem serta aturan), sedangkan wanita dalam hal berempati (kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain).
Komunikasi (Communication)
Kaum feminin nyaman untuk membuka diri (self-disclose) dan berkomunikasi dengan intim dibanding kaum maskulin. Kaum feminin dan maskulin ini berkomunikasi dengan cara yang berbeda dengan kaum dari gendernya.
Kaum maskulin berteman satu sama lain didasari pada kesamaan minat, sedangkan kaum feminin didasari karena kebutuhan (simbiosis mutualisme).
Dalam hal komunikasi kaum feminin lebih ekstrovert daripada kaum maskulin. Feminin tidak segan untuk membicarakan hal-hal pribadi, sedangkan maskulin tidak. Kaum maskulin juga tak segan untuk berkompetisi dalam sebuah pertemanan.
Kesimpulannya, dalam hal komunikasi jika kita berkomunikasi dengan seseorang kita juga harus memperhatikan gender dari lawan bicara kita. Karena, tiap gender memiliki cara pendekatan yang berbeda.
Psikologi
Dalam sebuah kelompok, biasanya ada seseorang atau pihak yang berperan sebagai pemimpin. Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada bagaimana pemimpinnya. Crowd Pschology (bagian dari psikologi sosial) menyatakan bahwa individu bisa saja mendapat kekuasaan untuk memimpin dengan berlaku kolektif. Jadi untuk menjadi seorang pemimpin tidak hanya untuk orang yang memiliki jiwa kepemimpinan saja, akan tetapi seorang pemimpin dapat terbentuk akibat mengikuti pola tertentu dalam kelompok.
Berikut ini beberapa teori yang menjelaskan Crowd Pschology:
1. Classical Theories (Teori Klasik)
Menurut Sigmun Freud, pola pikir individu dalam kelompok akan berbeda dengan pola pikir individual diluar kelompok. Pola pikir dalam kelompok akan berbeda karena pemikiran anggota kelompok akan menyatu membentuk suatu cara berpikir tertentu. Ahli sosial lain, yakni Le Bon, menyatakan bahwa ketika berada dalam kelompok, individu menjadi anonim (tidak mudah dikenali). Situasi tersebut membuat perilaku individu menjadi berbeda dari yang biasanya. Misalnya ketika kita sedang berada pada kerumunan di halte ketika menunggu bus, kita akan cenderung diam saja, dan lebih bersikap individualistik. Edward BernaysContohnya adalah manipulasi pada berita yang disajikan di media massa.
2. Contagion Theory (Teori Penularan)
Teori ini menyatakan bahwa individu yang tergabung dalam sebuah kerumunan atau kelompok yang anonim, akan meninggalkan tanggung jawab pribadinya. Sikap tersebut ditularkan dari keramaian. Jadi individu akan berperilaku berbeda akibat meniru perilaku individu lain yang sama-sama berada dalam kerumanan. Situasi dalam kerumunan dapat mengendalikan emosi seseorang, bahkan bisa menyebabkan individu bertindak tidak rasional, hingga melakukan kekerasan. Misalnya para penonton sepakbola yang melakukan tindakan anarkis akibat meniru tindakan suporter tim lain yang melakukan aksi serupa.
3. Convergence Theory (Teori Konvergensi)
Teori ini menyatakan bahwa ketakutan atau kerusuhan dalam suatu kerumunan disebabkan karena adanya pihak yang menjadi inisiator. Individu cenderung membentuk sebuah kerumunan atau kelompok untuk melakukan tindakan yang berbeda. Hal ini disebabkan karena dengan berada dalam kerumunan, individu dapat meninggalkan tanggung jawabnya dan memiliki keberanian yang lebih tinggi.
4. Emergent-Norm Theory
Menurut Ralph Turner and Lewis Killian, dalam sebuah kerumunan, terdiri dari individu yang memiliki berbagai motif dan kepentingan. Individu dalam kerumunan seringkali menciptakan peraturan/norma kelompok mereka sendiri dan menjalani peran yang berbeda-beda, ada yang berperan sebagai pemimpin dan yang lain berperan sebagai pengikut. Norma yang dibentuk dipandang sesuai dengan keyakinannya, dan apabila berseberangan dengan nilai / norma yang berlaku, maka konflik mungkin saja terjadi.
Berikut ini 4 bentuk perilaku kolektif:
1. The Crowd (Keramaian/Kerumunan)
Crowd merupakan suatu bentuk perilaku kolektif yang melibatkan emosi individu. Terdapat 2 bentuk dari crowd, yakni crowd positif dan crowd negatif. Bentuk positif dari keramaian dapat kita lihat seperti pada kasus pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari saat menghadapi kasus melawan Rumah Sakit Omni Internasional. Sedangkan bentuk negatif dari keramaian dapat kita lihat seperti pada kasus kerusuhan di Tanjung Priuk yang melibatkan warga sekitar pemakaman Mbah Priok dengan Satpol PP.
2. The Public
Publik disini tidaklah sama dengan anggota kelompok sosial atau masyarakat pada umumnya. Publik terbentuk ketika terdapat sebuah diskusi mengenai sebuah isu, dan akan berakhir ketika sudah tercapai sebuah keputusan mengenai isu tersebut.
3. The Mass (
4. The Social Movement (Gerakan Sosial)
Blumer¸membaginya kedalam dua jenis, yakni:
· Active Social Movement : berusaha mengubah suatu kelompok sosial
· Expressive Social Movement : berusaha mengubah anggota kelompok itu sendiri
Pada bahasan ini, dapat disimpulkan bahwa psikologi



