Pertemuan 2 - Gender Differences

Gender

Gender (baca: [gènder]) dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. WHO (World Health Organization) memberi batasan gender sebagai seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan atribut yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan, yang dikonstruksi secara sosial, dalam suatu masyarakat.

Konsep gender berbeda dari seks atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang bersifat biologis, walaupun dalam pembicaraan sehari-hari seks dan gender dapat saling dipertukarkan. Jika jenis kelamin keseluruhannya merupakan konstrukt biologis, maka gender merupakan hasil dari konstrukt sosial yang memaknai jenis kelamin. Gender bersifat lebih kompleks dari jenis kelamin.

Dalam isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) gender dikaitkan dengan orientasi seksual. Seseorang yang merasa identitas gendernya tidak sejalan dengan jenis kelaminnya dapat menyebut dirinya "intergender", seperti dalam kasus waria.

Dalam konsep gender, yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat, sehingga orang mengenal maskulinitas dan femininitas. Sebagai ilustrasi, sesuatu yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminin dalam budaya lain. Dengan kata lain, ciri maskulin atau feminin itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin.

Kesehatan Fisik (Physical Health)

Sejak masih berbentuk embrio pada masa awal pembuahan, terutama sebelum menginjak usia dewasa. Perempuan memang lebih kuat secara fisik dibanding laki-laki. Hal ini mungkin disebabkan oleh dua kromosom X yang dimiliki perempuan.

Neurologi (Neurology)

Anatomi otak perempuan bentuknya lebih padat, ukuran lebih kecil, dan lebih banyak berisi neuron daripada otak laki-laki. Fungsi bahasa pada perempuan juga didistribusikan secara merata pada kedua cerebral hemispheres dalam otaknya, sementara pada pria hanya terkonsentrasi pada hemispheres sebelah kiri. Hal ini menyebabkan pria lebih rentan terhadap gangguan bahasa seperti disleksia (dyslexia).

Sampai saat ini masih menjadi perdebatan apakah kromosom Y pada laki-laki yang membuatnya rentan terhadap gangguan kejiawaan. Seperti, keterbelakangan mental (down syndrome).

Psikologi (Psychology)

Tidak ada perbedaan antara sifat kognitif dan psikologis laki-laki dan perempuan, kalaupun ada presntasenya hanya sedikit.

Tes Kepibadian (Personality Test)

Perempuan memiliki kecenderungan tinggi dalam hal keramahan (agreeableness) kecenderungan merasa kasihan dan kooperatif. Dan, neurotisisme (neuroticism) kecenderungan merasa gelisah, marah, dan depresi).

Hasil survey MBTI menyatakan 60-75% perempuan lebih menggunakan perasaan, dan 55-80% pria lebih menggunakan pikiran.

Keagresifan (Aggression)

Laki-laki lebih agresif dari perempuan. Beberapa studi menunjukkan bahwa laki-laki memiliki kecenderungan lebih besar dalam melakukan hal-hal berbahaya daripada perempuan. Kecenderungan agresifitas berkorelasi dengan tingginya nilai testosteron (testosterone).

Sistemasi dan Berempati (Systematizing and Empathizing)

Laki-laki lebih baik dalam hal sistemasi (keinginan untuk melakukan analisa dan eksplorasi sistem serta aturan), sedangkan wanita dalam hal berempati (kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain).

Komunikasi (Communication)

Kaum feminin nyaman untuk membuka diri (self-disclose) dan berkomunikasi dengan intim dibanding kaum maskulin. Kaum feminin dan maskulin ini berkomunikasi dengan cara yang berbeda dengan kaum dari gendernya.

Kaum maskulin berteman satu sama lain didasari pada kesamaan minat, sedangkan kaum feminin didasari karena kebutuhan (simbiosis mutualisme).

Dalam hal komunikasi kaum feminin lebih ekstrovert daripada kaum maskulin. Feminin tidak segan untuk membicarakan hal-hal pribadi, sedangkan maskulin tidak. Kaum maskulin juga tak segan untuk berkompetisi dalam sebuah pertemanan.

Kesimpulannya, dalam hal komunikasi jika kita berkomunikasi dengan seseorang kita juga harus memperhatikan gender dari lawan bicara kita. Karena, tiap gender memiliki cara pendekatan yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar